Upaya Mencintai Diri Sendiri

Tapi di samping tumpukan itu ada sebuah rekaman album band yang anda sukai. Kamu memutuskan untuk memutar rekaman itu, ah sebentar lagi akan jadi bangkai apa salahnya jika proses menjadi jenazah tadi diiringi dengan musik.

Pernahkan kamu bangun dengan perasaan tidak berguna, tidak penting, dan kesepian? Perasaan suicidal itu lantas dilanjutkan dengan keinginan tak tertahankan menembak kepala sendiri dengan peluru. Kamu  bangun dari tidur, berjalan ke arah meja, membuka laci, sebuah pistol dengan pelor yang siap menembus apapun termasuk tengkorakmu. Tapi di samping tumpukan itu ada sebuah rekaman album band yang anda sukai. Kamu memutuskan untuk memutar rekaman itu, ah sebentar lagi akan jadi bangkai apa salahnya jika proses menjadi jenazah tadi diiringi dengan musik.

 

Dalam sebuah fragmen dalam novel karangan Ned Vizzini yang berjudul It's Kind of a Funny Story, dikisahkan bagaimana seorang dengan gangguan depresi memandang pekerjaan. Si karakter, Craig Gilner, adalah remaja usia 15 tahun yang diterima di sekolah prestisius. Sekolah itu mementingkan pentingnya prestasi akademik, ini yang kemudian menyebabkan Gilner menjadi merasa asing, takut, dan cemas setiap saat. Pada akhirnya ia merasakan keinginan untuk bunuh diri tak tertahankan lagi. Cerita ini menggambarkan bagaimana kehidupan urban kadang memberikan tekanan hidup berat yang berujung pada depresi. Ned Vizzini sendiri akhirnya ditemukan bunuh diri usai menulis novel ini. 

 

Kamu memutar piringan hitam itu. Rekaman dari Harvest and Columbia yang dirilis pada 12 September 1975. Album Wish You Were Here dari Pink Floyd yang tak sengaja kamu temukan di sebuah toko digital. Kamu menikmati detik demi detik lagu itu. Melupakan semua keinginanmu untuk mati. Sekali lagi, musik menyelamatkanmu dari kematian, memberikanmu alasan untuk hidup, lantas membuat segala yang negatif luruh dan habis. 

 

What have we found?

The same old fears.

Wish you were here.

 

Kamu bernafas lagi, hidup sehari lebih lama, musik memberikan kesempatan bagimu untuk berpikir bahwa di dunia yang demikian tengik, demikian brengsek, kamu masih punya satu hal yang ogah kamu tukar dengan kematian, musik yang indah, album rekaman yang penting, dan segala bunyi yang membuatmu bahagia. Kamu mungkin sendiri, mungkin juga kesepian, mungkin juga tidak tahu hendak melakukan apa, tapi tentu saja bahwa hidup yang kepalang brengsek ini mesti dijalani. 

 

Ini bukan perkara mudah. Setidaknya dunia saat ini sedang dijangkiti dengan wabah kesepian. Rebecca Harris, dalam laporannya di Independent menuliskan laporan pendek tentang epidemik kesepian. Riset yang dilakukan oleh Mental Health Foundation di Inggris menunjukan bahwa satu dari sepuluh orang di negara itu merasakan kesepian setiap saat. Bahkan 48 persen diantaranya merasa makin kesepian dari hari kehari. Tidak heran jika kemudian Inggris menjadi negara paling kesepian di eropa. Tapi bukan itu yang berbahaya, kesepian dapat membunuh.

 

Kamu melihat lagi revolver, senjata api yang entah kenapa kamu beli. Kamu pernah merasakan dinginnya besi itu di keningmu. Tapi kamu tahu tidak hari ini, tidak saat ini, kamu hanya ingin mendengar musik, musik yang membawamu pada satu waktu di masa silam. Kamu melihat piringan hitam 10 inci dari Daughter – His Young Hearts. Kamu ingat album itu, membelinya karena sebuah lagu spesifik yang mengingatkamu pada perempuan itu. 

 

Cause we both know I'll never be your lover

I only bring the heat

Company under cover

Filling space in your sheets

 

Tapi bukankah ada hal-hal yang bisa menyelamatkan kita dari kesepian? Musik tentu saja adalah salah satu yang paling moncer. Mendengarkan musik membuat kita menikmati hidup. Mengambil jeda, menikmati sesaat sunyi untuk kemudian perlahan meresapi bunyi. Perlahan kamu bisa membayangkan seluruh rekaman hidup yang dengan bandel muncul pada tiap lagu yang kamu pilih dengan sadar. Ingatan yang tak pernah kamu duga ada, tak pernah kamu harapkan untuk datang lagi.

 

Kamu memutuskan memutar piringan hitam yang lain. Kali ini original soundtrack dari film The Perks of Being Wallflowers. Could It Be Another Change dari The Samples mulai nyaring, bunyinya memenuhi ruang kamarmu. Kamu dipaksa mengingat sebuah senyuman, perbincangan tentang masa depan, pelukan hangat, dan hangat nafas yang bisa kamu rasakan di wajahmu. Matamu mulai panas, kamu enggan mengakui bahwa kamu rindu, tubuhmu mengambil alih dan mulai menangis. Kamu membuka ponsel, berselancar di media sosial. 

 

The only time I feel good sinking

Is when I'm sinking fast and deep for you

You caught me when I was winking

Now I think my winking days are through

 

Internet dalam hal ini punya andil dalam proses keterasingan dan kesepian yang dialami oleh manusia. Media sosial, mulai dari Facebook hingga Twitter, kata Stephen Marche, penulis dari The Atlantic, membuat kita mampu berjejaring dengan banyak orang. Tapi dengan segala kemudahan dan konektivitas yang ada ini, media sosial membuat kita lebih kesepian, dan segala kesepian ini membuat manusia menjadi semakin mudah depresi dan mudah sakit. Sebuah gejala epidemik kesepian karena teknologi mulai muncul dan pelan-pelan memangsa masyarakat kita. 

 

Kamu memutuskan untuk menghentikan album soundtrak The Perks of Being Wallflowers. Kamu sudah menyerah untuk merindu. Kamu butuh sesuatu yang gegas, yang keras, agar kamu bisa bangun dan bersemangat kembali. Kamu tak butuh melankolia, tapi kamu sadar, ini sudah pukul tiga dini hari. Memutar piringan hitam dari album metal di apartemen hanya akan menambah masalah. Lantas kamu memutuskan untuk memutar album yang lain, yang lebih ringan, sesuatu yang kamu harap tak membawa lagi kenangan. Tapi kamu tahu itu mustahil tapi kamu tetap memilih album itu. 

 

Kamu mengambil album The Flaming Lips - Yoshimi Battles the Pink Robots, mengeluarkan pelan vinyl dari album kertas, meletakannya di turn table. Kamu ragu. Ini album yang kau beli untuk perempuan itu, perempuan yang menganggu tidurmu akhir-akhir ini, perempuan yang tak pernah kamu anggap berharga, hingga ia hilang lantas penyesalan brengsek itu muncul. Penyesalan yang membawamu tenggelam dalam perasaan sunyi, terbuang, dan kesepian. Tapi apakah itu kesepian?

 

Kamu memutuskan memutar album itu. Sembari mengingat sebuah penelitian dari John Cacioppo, direktur Center for Cognitive and Social Neuroscience di University of Chicago, adalah pakar tentang kesepian. Dalam jurnal yang berjudul Loneliness (2008), ia menjelaskan tentang gangguan kejiwaan yang disebutnya epidemik kesepian. Epidemik ini mengganggu kemampuan manusia untuk berfungsi secara sosial. Ia meneliti tingginya kandungan epiperine dan hormon stress dalam kencing orang-orang yang kesepian. 

 

Oh to fight is to defend if it's not now than tell me when

Would be the time that you would stand up and be a man

For to lose I could accept, but to surrender I just wept and regretted this moment

Oh that I, I was the fool

 

Tubuhmu mulai bisa kamu kendalikan, kamu telah berhenti menangis. Kamu telah sadar bahwa ada hal yang tak bisa kamu selamatkan. Cinta, pekerjaan, hidup, dan perempuan itu. Kamu semestinya bisa berdiri, tapi kamu enggan berpindah dari depan turn table itu. Kamu melihat sebuah album berwarna biru di ujung meja. Sebuah lagu yang mengambil judul legenda monster dari tanah yang jauh. Kamu menyukai bagaimana bunyi yang dihasilkan dalam album itu melahirkan harmoni di tengah kebisingan.

 

Kamu tak pernah benar-benar menyukai Polka Wars. Menurutmu Axis Mundi terlambat dilahirkan, ia bisa jadi musik yang demikian gemilang atau jenius jika dilahirkan lima tahun yang lalu. Tapi kamu tetap membeli album itu, menyigi tiap sudutnya, menghidu wangi plat hitam yang sebenarnya sama saja, tapi kamu tahu, album itu adalah album terakhir yang kamu beli usai perpisahan dengan perempuan itu. Perempuan yang memberimu semangat untuk hidup dan memperkenalkanmu pada indahnya musik.

 

Cracks are dawning cold under the skin 

Tremble all then seize and falls

Palms are laid out catching a trapeze

Falling off from this crooked mind

 

Kamu memutuskan untuk tidak tunduk pada hormon stress, menolak untuk merasa sedih dan berdiri. Kamu ingin menginat perempuan itu sebagai seseorang yang pernah membuat mu bahagia. Bukan sesuatu yang patut ditangisi atau dikutuk keberadaannya. 

 

Kamu mencintai perempuan itu, yang mengajarkanmu mencintai musik, juga piringan hitam. Kamu ingin memelihara ingatan itu dengan hidup bahagia. 

 

 

*catatan penulis

Semua album dalam tulisan ini bisa anda pesan di Hearingeye Records.

 

 

                                        

Arman Dhani adalah penulis buku "Dari Twitwar ke Twitwar",
Editor, Vinyl Junkie, Penggila Sepatu, dan Pengepul buku.

Hubungi Arman Dhani di :
www.kandhani.net
https://www.instagram.com
https://www.facebook.com

Latest News

Jangar, Merapal Ulang Duka Berkepanjangan Warga Bali lewat Stoner Rock Berenergi

Malam itu, Jangar meraung khidmat dan berdentum hebat lewat stoner rock gontai nan berat khas mereka.

A Wrecked Interview with Dominic of NOTHING

We concluded our interview with a shot of whisky which leaves us both drunk and him wandering around again in the parking lot. What a great night.

LIVE REVIEW FROM THE STAGE “NOTHING LIVE IN JAKARTA"

Every great moment starts with a touch of Orang Tua Finest, “Anggur Merah”