Seperti Ditikam, Seperti Menikam

Bagi saya Taring adalah obat mujarab kebebalan dan sikap dogmatis. Terhadap agama atau idola. Tak pernah ada kebenaran yang layak diperjuangkan dengan kekerasan. Album ini merupakan megafon yang lebih keras dari takbir kelompok bersorban yang menyerukan Ganyang Cina, namun menolak disebut rasis.

 

Apa yang membuat kamu merasa perlu melanjutkan hidup? Bukankah penindasan masih ada, rasialisme kuat, kebencian terhadap minoritas meluas, dan sentimen agama seperti bara. Saat ini orang orang seperti Trump dipuja, mereka yang paling keras menyeru Ganyang Cina dipuji, dan siapapun yang berteriak soal hak asasi manusia akan ditertawakan. 

 

Pertanyaan itu membikin saya kerap kali diam. Barangkali bukan karena saya tak punya jawaban, tapi karena saya tahu, kadang pertanyaan macam itu tidak membutuhkan jawaban, orang yang merasa perlu bertanya dengan sentimen macam itu hanya ingin didengarkan. Jika teman, sahabat, keluarga, atau kekasihmu bertanya dengan nada itu. Kamu tak harus menjawabnya, kecuali ia dengan sungguh-sungguh memintamu menjawab.

 

Bagi saya yang membuat hidup layak dijalani adalah karena ia adalah tanda tanya. Kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi beberapa jam atau beberapa menit setelah ini. Kamu hanya bisa mempersiapkan diri. Beberapa hari dari sekarang mungkin perempuan yang kamu suka akan pacaran dengan pria lain. Beberapa jam dari sekarang musisi idolamu akan meninggal. Kekecewaan-kekecewaan hadir bertubi-tubi sampai akhirnya kamu merasa menyesal telah hidup. Kamu akan dibuat bersedih lalu kembali bertanya, buat apa hidup ini? 

 

Hidup itu brengsek. Tapi kadang jika kamu cukup beruntung, kau bisa menemukan hal-hal yang membuatmu bahagia. Tentu kamu kehilangan musisi idolamu, tapi ketika kamu menggali dan mengulik kembali Youtube atau Spotify kamu akan menemukan lagi musik baru. Musisi atau band yang sama sekali tak pernah kamu kenal untuk kemudian jatuh cinta lagi pada hidup. Atau mungkin, ketika hidup sudah kepalang belagu dan bedebah, kamu bisa pulang ke rumah dan mencari-cari lagi di antara tumpukan kaset, CD, atau vinyl lamamu suara yang bisa membuatmu merasa hidup.

 

Ini klise tentu saja. Tapi bukankah setiap fragmen hidup jadi lebih dramatis jika diiringi dengam musik? Misalkan ketika kamu duduk bersantai di pinggir rel sambil makan bubur ayam, atau ketika kamu tersungkur dalam selokan karena terlalu banyak minum jamu, atau mungkin ketika kamu mesti tidur di luar karena istrimu kelewat jengkel dengan kegemaranmu touring motor hingga dini hari. Minus musik, adegan tadi hanya keseharian belaka, dengan musik ia bisa jadi serupa adegan dramatis dalam film-film Tarantino.

 

Di antara tumpukan kaset dan CD kamu menemukan satu band yang telah kamu lupakan karena sibuk mengejar perempuan dan ditekan beban pekerjaan. Tengkorak di antara rimbun daun dengan tulisan Taring. Seringai, band yang telah lama menjadi karibmu selama ini. Kamu ingat pertama kali membeli album itu, seperti banyak orang lain, Seringai adalah mesiah, juru selamat yang memberimu suara untuk mengutuk hal yang kamu benci. Hari ini mereka merilis album dalam bentuk vinyl.

 

Kenapa Vinyl? Bukankah Taring sudah dirilis dalam bentuk cakram digital dan pada Record Store Day beberapa waktu lalu telah dirilis dalam bentuk kaset? Ini bukan soal bagaimana ia dirilis, bukan pula perihal mengoleksi medium, bagi beberapa orang cara menikmati musik punya pengaruh terhadap mood yang dihasilkan. Sebut ini snoobs dan belagu. Tapi bagi beberapa orang medium adalah cara kita menikmati hidup. Musik tentu saja soal urusan telinga. Tapi bagaimana kamu merasa musik perlu didengarkan juga penting. 

 

Seorang buruh di Karawang membeli CD Taring lantas mengkonversinya dalam bentuk MP3 untuk diputar melalui ponselnya. Ia tahu nasib mungkin tak akan pernah berubah, serikat kerja diisi oleh para komprador, sementara mandor hanya sekrup pemilik modal. Buruh ini paham melawan adalah soal keniscayaan. Kerja dimulai dari pagi, panas, lapar, dan gaji yang tak seberapa dilewati nyaris tanpa penyesalan. Ia melewati jam demi jam kerja di pabrik sambil mendengarkan Seringai mewakilinya mengutuk rutinitas. 

 

Tak pernah menguntungkan dari dulu hingga sekarang

Dan selalu saja kita yang menjadi susah, korban

Kapan membaik membuat kita tenang?

 

Seorang pekerja kelas menengah di Jakarta mengarungi Jakarta dengan memutar Taring dari Itunes melalui Ponsel di Mobilnya. Ia berteriak tentang prajurit bayaran yang mati ditebas kepalanya. Semalam ia baru saja menonton Star Wars dan pagi itu ia merasa berhak menghadiahi diri sendiri teriakan-teriakan panjang tentang masa kecilnya. Besar sebagai seorang kutu buku dan penggemar komik, ia tak pernah mengira bahwa Star Wars akan jadi besar. Berjam-jam masa kecil menirukan Darth Vader kini membuatnya merasa tak terasing dari kawan-kawannya. 

 

Ayah terbunuh di Perang Geonosis

Dipenggal Jedi, akhir yang tragis

Mace Windu, kau akan mati ditanganku

Sumpah sang anak, janji yang terpaku

 

Seorang mahasiswa di Jogja tengah duduk sendiri di perpustakaan. Ia memutar kaset Taring dari walkman bekas yang ia beli di pasar loak sebulan lalu. Semalam ia baru saja mabuk fermentasi salak dan pagi ini ia terlambat masuk kelas. Ia tahu kelas itu penting untuk kelulusan semester ini. Ia mungkin menyesal telah telat dan mungkin mesti mengulang kelas tahun depan. Tapi ia merasa tak akan pernah menyesali mabuk semalam bersama kawan-kawannya seusai konser Seringai.

 

Lisoi lisoi lisoi lisoi

o parmitu lisoi

lisoi lisoi lisoi lisoi

inum ma tuakmi

Sirupma sirupma dor gukma dor gukma

handit ma galasmi

 

Seorang perempuan menangis. Ia baru selesai mengakhiri hubungan tolol di mana ia lebih sering menjadi sansak daripada kekasih. Perempuan itu menolak ditindas. Ia ingin jadi kuat. Kamu sadar cemburu bukan ekspresi cinta, ia lebih mirip relasi kepemilikan, dan kamu sadar kamu bukan benda yang bisa diperlakukan seenaknya. Kamu menolak menjadi bagian statistik kekerasan, kamu menolak dibuat diam, kamu menekan tombol volume hingga titik paling kencang. Tak mau lagi jadi korban. Tak mau lagi mengalami tragedi.

 

Amarahku menderu, bagaikan guntur

Akulah sang sangkur

Akulah peluru, yang akan memburu

 

Setiap orang punya asosiasi terhadap musisi idolanya. Mereka yang menjadikan Seringai sebagai penerjemah atau sekedar tukang pukul. Melalui Taring, mereka memberikan ruang terhadap interpertasi personal. Kamu mungkin mendengar Taring dari CD, Itunes, Kaset, atau Vinyl tapi efek dramatisnya sama. Bahwa lagu-lagu dalam Taring sejak dirilis pada 2012 masih relevan, masih ingin didengar, dan masih cukup brengsek untuk menginjak muka orang-orang fasis sambil sesekali memuntahkan isi perut.

 

Bagi saya Taring adalah obat mujarab kebebalan dan sikap dogmatis. Terhadap agama atau idola. Tak pernah ada kebenaran yang layak diperjuangkan dengan kekerasan. Album ini merupakan megafon yang lebih keras dari takbir kelompok bersorban yang menyerukan Ganyang Cina, namun menolak disebut rasis. Sebutkan Dilarang Di Bandung, Taring, Tragedi, Serenada Membekukan Api, dan Infiltrasi maka kamu akan sadar ada cara lain bicara tentang masalah sosial tanpa perlu membuat kultwit.

 

Terserah melalui apa anda mendengarkan album ini; CD, Kaset, Streaming, atau Vinyl, album Taring adalah seperangkat mesin maskulin yang akan menghantam telingamu. Tentu tidak semua orang bisa menghargai dirilisnya album ini dalam bentuk vinyl sebagai karya seni. Masih ada pengepul dan sekelompok Hyena yang membeli rilisan hanya untuk menjualnya kembali ke penawar tertinggi. Well, hei setiap peradaban punya Judas dan Abu Jahalnya sendiri. Kita datang untuk musik, jika ada orang-orang yang bisa menikmati sekian margin rupiah untuk hidupnya, mengapa ribut?

 

Mendengar Taring adalah usaha untuk menikmati luka-luka seusai perkelahian. Kamu tahu? Perasaan yang kamu dapatkan usai menghamburkan bergalon testosteron di sebuah lapangan sembari baku pukul di pelipis, ulu hati, dan selangkanganmu. Tapi ingat. Maskulin tidak memberimu hak jadi misoginis. Selamat bersenang-senang. Vinyl ini adalah hadiah untuk akal sehat kita.

 

                                        

Arman Dhani adalah penulis buku "Dari Twitwar ke Twitwar",
Editor, Vinyl Junkie, Penggila Sepatu, dan Pengepul buku.

Hubungi Arman Dhani di :
www.kandhani.net
https://www.instagram.com
https://www.facebook.com

Latest News

Jangar, Merapal Ulang Duka Berkepanjangan Warga Bali lewat Stoner Rock Berenergi

Malam itu, Jangar meraung khidmat dan berdentum hebat lewat stoner rock gontai nan berat khas mereka.

A Wrecked Interview with Dominic of NOTHING

We concluded our interview with a shot of whisky which leaves us both drunk and him wandering around again in the parking lot. What a great night.

LIVE REVIEW FROM THE STAGE “NOTHING LIVE IN JAKARTA"

Every great moment starts with a touch of Orang Tua Finest, “Anggur Merah”