Pasang-Surut Piringan Hitam

 

Penjualan vinyl terus meningkat dalam enam tahun terakhir. Ada semacam kebosanan terhadap piranti digital, sehingga orang mulai lagi berburu vinyl. Imbas dari fenomena kebangkitan piringan hitam, pabrik dan distributor vinyl semakin sibuk meningkatkan produksi mereka. Salah satunya adalah Chad Kassem, pemilik Quality Record Pressings.

Sutradara Wim Wenders pernah berkata, “Jangan habiskan uangmu untuk terapi, lebih baik gunakan untuk membeli album”. Wim adalah penggemar berat vinyl atau piringan hitam. Pernyataannya mewakili perasaan jutaan penggemar vinyl yang mendapatkan sensasi berbeda dengan memutar piringan hitam. Trennya kembali meningkat di era digital sekarang ini.

Vinyl sempat mengalami masa kejayaan pada era 60-70an, ketika band-band terbaik dunia masih merilis album dalam format ini. Namun, penemuan kaset dan cakram digital membuat vinyl sempat memudar untuk kemudian nyaris hilang dari peredaran.

Ini bukan berarti vinyl mati sama sekali. Bagi sekelompok penggemar musik yang menyebut diri audiophile, format analog musik ini adalah medium terbaik untuk mendengarkan musik. Mereka percaya, medium ini akan kembali berjaya. Mereka benar. Setidaknya selama 10 tahun terakhir, vinyl mengalami proses yang disebut "vinyl revival" kebangkitan kembali, terbukti dari angka penjualan yang terus meningkat.

Pada 2013, penjualan vinyl di situs Amazon meningkat lebih dari 700 persen. Menurut data Nielsen Soundcan, penjualan Vinyl di Amerika Serikat telah mengalami peningkatan sebesar 260 persen sejak 2009. Lebih dari 9,2 juta vinyl yang terjual pada 2014 , meningkat 52 persen dari tahun sebelumnya dan merupakan angka penjualan tertinggi dalam dua dekade terakhir. Pada Desember 2015, penjualan vinyl di Amerika saja telah mencapai 12 juta keping. 

Beberapa kolektor pun memanfaatkan tren yang terus membaik ini untuk menjual koleksi vinyl mereka. Trevor Cowling, misalnya, seorang warga Adellaide Australia, berhasil menjual 100.000 koleksi vinylnya. Ia mulai mengoleksi vinyl sejak 1957, lalu sebuah perusahaan di Amerika Serikat menawar seluruh koleksinya senilai 1,5 juta dollar. 

Indonesia juga mengalami demam vinyl. Hal ini terbukti dengan tandasnya beberapa album vinyl yang dirilis tahun lalu. Album Homicide, Barisan Nisan, habis dalam waktu 5 menit. Sementara album Starlit Carousel dari Frau, diburu karena bentuk dan kemasannnya yang sangat indah. Sebelumnya, band Seringai juga merilis album High Octane dan menjadi salah satu buruan para penggemar vinyl.

Ada beberapa hipotesis yang mungkin bisa menjelaskan mengapa vinyl kembali bangkit. Di antaranya kebosanan akan gaya hidup digital, perasaan nostalgia masa kecil, keinginan memiliki rilisan fisik, pengalaman mendengar musik yang berbeda, apresiasi album sebagai bentuk seni, dan tentu saja persepsi bahwa vinyl adalah bentuk musik paling baik.

Para penggila vinyl

Salah satu momen di mana penikmat vinyl bisa bersuka ria adalah 16 April. Karena pada hari itu diperingati Record Store Day. Untuk memeriahkan Record Store Day, band-band terkenal dunia biasanya merilis album terbaru dan eksklusif untuk mengenang rekaman fisik yang dulu pernah berjaya seperti vinyl, dan kaset dan CD. Secara khusus bahkan, ada yang merilis album mereka dalam bentuk piringan hitam dan tak tersedia dalam format lain. Ini adalah hari para penggila musik bernostalgia dengan rekaman fisik.

Tapi mengapa mendengarkan vinyl? Bukankah ini adalah format analog yang merepotkan? Bukankah sudah ada layanan musik digital yang bisa kita dengarkan kapan saja di mana saja?

Bagi yang menggandrunginya, vinyl bukan hanya soal mendengarkan musik. Ini tentang apresiasi segala hal yang ada padanya. Artwork album, catatan album, lirik, dan juga bentuk fisik yang bisa kita rengkuh. Menurut Adam Gonsalves, seorang insinyur yang fokus pada kualitas musik, selain menawarkan pengalaman mendengarkan musik yang relatif lebih baik daripada bentuk musik lain, vinyl juga menghadirkan sensasi berbeda ketimbang musik digital atau radio.

Salah satu penggila vinyl yang susah tertandingi adalah Zero Freitas, seorang miliuner dari Brazil yang memiliki lebih dari 6 juta koleksi album piringan hitam. Koleksi ini terus bertambah dan bertambah. Jika kolektor biasa membeli album dengan tendensi untuk mendengar album spesifik atau genre tertentu, Freitas bisa dengan mudah membeli seluruh isi toko (kadang beserta tokonya) tanpa peduli apa jenis musik yang dijual. Kegilaan ini tentu merupakan contoh ekstrem, tapi ada cukup banyak penggila vinyl yang seperti ini.

Ada banyak kisah adiksi tentang vinyl. Sebuah situs bernama Dustandgrooves mendedikasikan dirinya untuk mengisahkan para penggila vinyl dari seluruh dunia. Salah satunya kisah tentang Keb Darge, seorang kolektor dan budayawan vinyl asal Skotlandia. Selama 40 tahun terakhir, Keb telah berinteraksi dengan banyak kolektor vinyl di seluruh dunia. Ia dikenal juga sebagai kolektor vinyl 7 inch yang fokus pada genre funk.

Vinyl juga yang mempertemukan dan mempersatukan Sam Swig dan Eric Bosick di California. Mereka berdua pada awalnya tak kenal satu sama lain, mereka berjumpa ketika berburu vinyl. Lantas setelah sebuah peluncuran buku tentang vinyl, yang diselengarakan oleh Dustandgrooves, mereka memutuskan untuk kembali bertemu dan ngobrol lebih jauh. Keduanya kini mengasuh kanal audio Dustandgrooves, mereka bicara tentang vinyl dari genre punk dan funk.

Budi Warsito, seorang kolektor vinyl asal Bandung, menyebut koleksi piringan hitam serupa candu baginya. Benda bundar hitam ini membuatnya jatuh cinta. Album pertama yang menarik perhatiannya adalah album Oslan Husein, Hanja Ada Satu. Sejak itu Budi menjadi kecanduan dan kini memiliki ratusan album di Kineruku, tempat kerjanya di Bandung. Ia pun pernah aktif mengikuti kelompok diskusi dan mendengar Vinyl, Dheg-Dheg Plat—nama yang terilhami judul album Koes Ploes, Dheg Dheg Plas.

Menurut Budi, terbatasnya jumlah dan akses terhadap vinyl membuat hobi ini hanya disukai kalangan terbatas di Indonesia. Ada stigma bahwa hobi ini hanya bisa dilakukan oleh orang kaya. Itu separuh benar. Mengingat harga vinyl baru bisa mulai dari Rp250 ribu hingga Rp1 juta. Sementara plat lokal langka harganya cukup mahal, album-album Dara Puspita, God Bless, dan Guruh Gipsi bahkan hingga jutaan rupiah.

Ketiadaan pabrik vinyl di Indonesia adalah faktor utama kenapa harganya sangat mahal dibanding negara lain. Jika sebuah plat hitam bekas di luar berkisar antara 1 hingga 5 dolar, di Indonesia sebuah plat bisa berkisar antara Rp75 ribu sampai jutaan tergantung kelangkaan atau popularitas vinyl. 

Maka tak heran pada Record Store Day tahun ini, di Indonesia hanya ada satu rilisan vinyl: dari band Polka Wars. Sisanya dalam bentuk CD dan kaset.

 

Dokumentasi : Tirto

Pasar Vinyl

Imbas dari fenomena kebangkitan piringan hitam, pabrik dan distributor vinyl semakin sibuk meningkatkan produksi mereka. Salah satunya adalah Chad Kassem, pemilik Quality Record Pressings. Kassem mengaku kebanjiran pesanan. Tanpa memiliki mesin baru mustahil ia memenuhi semua permintaan vinyl. The Salinas, salah satu perusahaan pembuat vinyl, mengaku baru saja membeli 13 mesin baru pencetak vinyl dari Joell Hays. 

Vinyl memang kue yang legit. Di Amerika saja, sepanjang 2014 menghasilkan pasar dengan nilai 346,8 juta dolar. Sementara Australia dan Jepang mengalami peningkatan penjualan vinyl sebesar 127 persen dan 81,4 persen. Meski demikian, pasar vinyl masih sangat kecil dibandingkan dengan uang yang dihasilkan industri musik secara keseluruhan, hanya 2 persen dari 14,97 miliar pada 2014.

Peta persebaran Vinyl dunia juga terlihat baik. Berdasarkan data dari The International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), organisasi yang mewakili lebih dari 1.300 perusahaan rekaman di seluruh dunia, ada 10 negara yang mengalami peningkatan signifikan penjualan vinyl. Lima besar negara yang mengalami kenaikan signifikan adalah Australia, Jepang, Inggris, Italia dan jerman.

Tidak hanya tentang vinyl, kebangkitan industri ini juga mengangkat fenomena audiophile, atau orang-orang yang menggemari kualitas musik terbaik dari turntable atau pemutar piringan hitam. Turntable produksi Clearaudio Statement Turntable, misalnya, harganya bisa mencapai harga $150.000. Buatan desainer Jerman Peter Suchy ini adalah salah satu turntable termahal di dunia.

Tulisan ini juga dimuat di www.tirto.id 

 

Arman Dhani adalah penulis buku "Dari Twitwar ke Twitwar",
Editor, Vinyl Junkie, Penggila Sepatu, dan Pengepul buku.

Hubungi Arman Dhani di :
www.kandhani.net
https://www.instagram.com
https://www.facebook.com

Latest News

Jangar, Merapal Ulang Duka Berkepanjangan Warga Bali lewat Stoner Rock Berenergi

Malam itu, Jangar meraung khidmat dan berdentum hebat lewat stoner rock gontai nan berat khas mereka.

A Wrecked Interview with Dominic of NOTHING

We concluded our interview with a shot of whisky which leaves us both drunk and him wandering around again in the parking lot. What a great night.

LIVE REVIEW FROM THE STAGE “NOTHING LIVE IN JAKARTA"

Every great moment starts with a touch of Orang Tua Finest, “Anggur Merah”