Jangar, Merapal Ulang Duka Berkepanjangan Warga Bali lewat Stoner Rock Berenergi

Malam itu, Jangar meraung khidmat dan berdentum hebat lewat stoner rock gontai nan berat khas mereka, serupa dengan John D. Cronise, Bryan Richie, Reed Mullin, hingga Matt Pike yang sudi menjalin relasi di bawah kepulan asap organik nikmat demi mentertawakan dunia yang tengah kalang kabut.

 

Jumat (7/4) malam lalu, Six Thirty Recordings—lebih dikenal selaku penyelenggara tur band internasional yang bertandang ke tanah air serta pelaku distribusi musik digital—sukses mengadakan acara bertajuk Eleventwelfth Showcase yang digelar di Borneo Beerhouse, Kemang, Jakarta Selatan. Selain menghadirkan Eleventwelfth sebagai ujung tombak kemeriahannya, tampil pula beberapa band lain yang musikalitas hingga permainan di atas panggungnya juga wajib disimak. Mereka adalah Jangar, Secret Meadow, dan Nort.


Dari keempat penampil tersebut, Jangar merupakan satu-satunya yang terlahir bukan sebagai band ibu kota. Kuartet beranggotakan vokalis Gusten Keniten, gitaris Dewa Adi Sanjaya, bassist Rai Biomantara, serta drummer Pasek Darmawaysya ini sengaja datang jauh-jauh dari Pulau Dewata khusus untuk melangsungkan tur konser mini Cek Ombak 2017 yang mereka gelar di dua kota berbeda: Jakarta dan Bandung. 


Malam itu, Jangar meraung khidmat dan berdentum hebat lewat stoner rock gontai nan berat khas mereka, serupa dengan John D. Cronise, Bryan Richie, Reed Mullin, hingga Matt Pike yang sudi menjalin relasi di bawah kepulan asap organik nikmat demi mentertawakan dunia yang tengah kalang kabut. Apalagi ini adalah panggung pertama Jangar di Jakarta, tentu saja mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

 

Sesekali Gusten memegang megaphone-nya erat-erat lalu berteriak kencang, seolah mengindikasikan penampilan yang berkobar-kobar. Layaknya koordinator aksi pembangkangan rakyat terhadap kebijakan otoritas, ia menyisipkan orasi pendek sesaat sebelum lagu demi lagu mulai dimainkan. Ini merupakan medium baginya dalam menyampaikan suara-suara yang bersenyawa bersama musik Jangar.


Satu dari sekian banyak suara yang dimaksud adalah mengenai situasi dan kondisi Bali saat ini. Kampung halaman yang menjadi saksi kelahiran Jangar selaku entitas rock penuh energi siap perang. “Banyak pengaruh Bali bagi kami, karena sebelum mulai ngeband, di tempat nongkrong pun kami memegang kuat budaya dan adat istiadat yang ada. Mungkin nggak semua, tapi generasi muda di Bali sekarang sudah mulai bekerjasama dalam memegang teguh adat istiadat Bali. Alasan ini juga yang membentuk kami. Kalau kami tidak lahir di Bali, tidak mungkin ada Jangar dengan musik yang seperti ini,” ungkap Gusten yang berbincang dengan saya usai menuntaskan aksi panggungnya hari itu.


Ditemani kehangatan substansi hasil fermentasi bernama arak, yang ia bawa langsung dari Bali untuk dibagikan kepada kawan-kawan di Jakarta dan Bandung, Gusten lanjut bercerita tentang berbagai hal; mulai dari eksistensi Jangar, ekosistem kancah musik di Bali, hingga isu sosial politik yang coba terus disuarakan.


“Festival motor dan musik Weekend Warrior #2 yang diadakan pada 2015 lalu adalah panggung pertama Jangar. Kami bisa tampil di event tersebut karena Rai aktif mengikuti komunitas motor. Kami langsung membuat lagu ‘Titan’ untuk dibawakan di sana,” kenangnya.


Terbentuk selama kurang lebih dua tahun, Jangar telah melepas secara apik satu album pendek bertajuk sama dengan nama band (self-released) dan berencana untuk menggarap album penuh perdana dalam waktu dekat. Bentuk fisik dari Jangar yang berisi lima lagu itu hanya dirilis dalam format kaset deluxe edition pada pertengahan tahun lalu—sedangkan Six Thirty Recordings bertugas mendistribusikannya secara daring. “Sebenarnya Jangar ada enam lagu, tapi satu lagu tambahan berjudul ‘H.S.S.’ adalah bonus track. Bagi yang membeli merchandise Jangar bisa mendapatkan kode unduh lagu ini via Bandcamp kami.”  


Sembari menyampaikan kesan positif yang dirasakan setelah tampil di ibu kota untuk pertama kali, Gusten turut mencurahkan sedikit isi pemikirannya mengenai perbedaan dinamika yang terdapat di antara dua kancah musik dengan letak geografisnya yang cukup berjauhan, yaitu Jakarta dan Bali. Ia berkomentar, “Main di Jakarta rasanya menyenangkan. Aku pribadi 100 persen respect dengan teman-teman di Jakarta. Rasa ingin tahu mereka hebat, mereka mau mengenal segala sesuatu atas dorongan diri sendiri, tanpa perlu menunggu ajakan-ajakan dari orang lain. Sedangkan di Bali, masih banyak yang harus dipengaruhi terlebih dahulu. Faktor apresiasi dan keberanian masih kurang, mereka malu dengan apa yang mereka lakukan atau bisa dibilang mereka masih senang disamakan dengan orang lain.”


Meski ada kekurangan kasatmata semacam itu, Bali tetaplah menjadi salah satu pulau penghasil band-band berkualitas yang memainkan beragam jenis genre musik. Di ranah rock sendiri, setelah belakangan ini kita sering mendengar nama Rollfast, muncul pula beberapa band baru seperti Cyclops dan juga Mound, yang kini mulai sibuk bermain di panggung-panggung lokal sekaligus berperan sebagai bentuk konkret dari apa yang sering disebut regenerasi. 


Perlu diakui, Bali memang tak selamanya cantik untuk dipandang dan syahdu untuk ditongkrongi. Di balik gemerlap hiburan dan pembangunan infrastrukturnya yang kian pesat, Bali menyimpan duka atas berbagai polemik yang ada. Penolakan terhadap reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa adalah salah satu yang beberapa tahun terakhir membeludak diperjuangkan. Namun nyatanya, ada pergolakan lain yang masih melekat sejak lama dan ingin dilawan oleh para penggawa Jangar. 


Lebih dari lima dekade lalu, bangsa Indonesia mengalami genosida super sadis yang terjadi tak lama setelah G30S. Pembunuhan penuh kekejaman selama beberapa waktu itu menewaskan jutaan penduduk sipil yang diduga bersekongkol dan mendukung pergerakan PKI. Obrolan kami semakin akrab dan mendalam.

 

Dewa yang sudah tampak kelelahan, mencoba bergabung bersama saya dan Gusten untuk menyingkap bagaimana lagu “Gestok”—akronim dari Gerakan Satu Oktober—milik Jangar yang bertutur tentang peristiwa keji tersebut bisa tercipta. “Permasalahan 1965 itu efek dan dampaknya masih terasa sampai sekarang. Pola pikir orde baru masih ada. Banyak orang yang menganggap orde baru lebih baik. Hal-hal inilah yang ingin kami ubah. Mengapa mereka bisa bilang orde baru lebih baik?” tanya Dewa dengan lirih. “Mohon cari tahu dulu, sebelum membuat pernyataan semacam itu,” lanjutnya. 


Sementara Gusten memiliki kisah lain tentang bagaimana warga Bali masih menyimpan kegelisahan serta duka mendalam akan tragedi 1965, secara khusus hal itu dialami oleh keluarganya sendiri. “Pengaruhnya sangat besar. Berdasarkan imajinasinya, salah satu temanku bernama Andre Yoga [desainer grafis yang mengerjakan artwork album Jangar dan Lanes Oil, Dream is Pry milik Rollfast] pernah membuat mural di tembok rumahku. Mural itu bergambar seorang aparat tengah mengisap cerutu. Pada bagian topinya, dibubuhi logo palu arit. Paman dan Ayahku tiba-tiba keluar dan Andre langsung disuruh menghapusnya. Ia dituding, ‘Kamu ngapain gambar seperti ini? Kamu mau kita sekeluarga digerebek? Jangan jadikan ini sebagai guyonan!’” 


Gusten mengaku jika keluarganya masih takut sekaligus menganggap simbol palu arit adalah sesuatu yang sakral. “Aku langsung diajak bicara oleh pamanku. Katanya, ‘Kami dulu pernah mengalaminya, jadi jangan pernah membahas isu itu!’” 


Dihadapi dengan keadaan terdesak, Gusten mencoba untuk berpikir jernih. Ia beranggapan jika di satu sisi, keluarganya tak salah dalam menilai kejadian pilu yang terjadi puluhan tahun silam itu. “Mereka tak bisa disalahkan, karena memang didoktrin oleh pemerintah. Misalnya saja konsep komunis yang banyak dibelokkan. Rumahku juga hanya berjarak 50 meter dari Kodim, jadi aku sangat mengerti bagaimana perasaan mereka sehingga aku memutuskan untuk tidak berargumen.” 


Satu hal menarik lain adalah rasa takut yang ternyata menimpa Gusten saat akan merilis “Gestok”. Ia sempat berandai-andai kalau saja ada ancaman yang datang kepadanya. Namun seiring berjalannya waktu, tidak ada protes berlebihan yang diterimanya—baik secara pribadi maupun band—dari pihak-pihak tertentu. 


Apa yang diekspresikan oleh Jangar sebenarnya merupakan kelanjutan dari usaha menguak fakta, merekonstruksi makna yang sesat, serta membongkar kebohongan sistematis yang masih disimpan rapat-rapat oleh rezim hingga hari ini. Pada 2006, sejarawan John Roosa sudah berupaya menguak misteri pahit pembantaian massal 1965 lewat bukunya Pretext for Mass Murder atau versi terjemahan bahasa Indonesianya diberi judul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Begitu pula dengan niat rekonsiliasi yang dilakukan Joshua Oppenheimer melalui dua film dokumenter kontroversial nan memesona ciptaannya; The Act of Killing atau Jagal (2012) dan The Look of Silence atau Senyap (2014). 


Terkadang, perubahan kecil bisa menjadi suatu pencapaian besar yang layak disyukuri. Sejauh ini, Jangar melihat jika sedikit dari akumulasi suara kepedihan yang masih bersemayam bersama mereka telah didengar dengan seharusnya. “Malah aku kaget kalau ternyata banyak teman-teman yang mengapresiasi ‘Gestok.’ Dan yang lebih menyenangkannya lagi, mereka mulai mencari tahu apa arti Gestok atau ada apa sebenarnya di balik tahun 1965, karena memang sebenarnya lagu ini bukan bersifat statement, melainkan pertanyaan atas segala ketidakjelasan yang ada,” pungkas Gusten.

 

                                                          

Johan Franklin is the co-founder of Anter Beer, Bassist of Orestes, and Contributor of Rolling Stone Indonesia.

You can reach him through:
johanfranklinxv@gmail.com​
https://www.instagram.com

Latest News

A Wrecked Interview with Dominic of NOTHING

We concluded our interview with a shot of whisky which leaves us both drunk and him wandering around again in the parking lot. What a great night.

LIVE REVIEW FROM THE STAGE “NOTHING LIVE IN JAKARTA"

Every great moment starts with a touch of Orang Tua Finest, “Anggur Merah”

Best Album of 2016: Kevin Morby - Singing Saw

Kevin Morby adalah jawaban terbaik untuk tahun 2016. Penyebaran humanisme terselubung yang kemungkinan besar terdengar membumi dan ringan.