Best Album of 2016: Kevin Morby - Singing Saw

 

Kevin Morby adalah jawaban terbaik untuk tahun 2016. Penyebaran humanisme terselubung yang kemungkinan besar terdengar membumi dan ringan.

No one, nowhere to go

Step out of my Shadow

Take me as I am

A man

Pensiunan kancah indie rock New York tersebut membuka album ketiganya (Singing Saw) dengan menelanjangi diri sendiri. Seperti berpangku tangan melankolis di antara riuh kerusuhan yang berangsur usai.

 

Kevin Morby sempat dikenal sebagai punggawa unit musik psych-folk yang identik dengan label rekaman populer di kalangan sub-kultur Amerika Serikat, Woodsist. Pada suatu hari yang biasa, ia memutuskan untuk juga tampil sebagai singer-songwriter sembari membuat musiknya sendiri di apartemen yang ditinggalinya bersama dengan separuh dari Vivian Girls. Namun, hal tersebut belum dianggap cukup oleh wonderer akut seperti Kevin Morby.

 

Ia menanggalkan seluruh kemeriahan. Woods. Woodsist Records. New York.

 

Rentetan berlanjut hingga ribuan kilometer ke barat Amerika Serikat, ke Los Angeles, di suatu rumah tua di kaki bukit yang kemudian dibeli oleh Kevin Morby dan istrinya lengkap dengan piano antik di dalamnya. Instrumen yang sebelumnya tidak fasih dimainkan olehnya tersebut justru menimbulkan inspirasi untuk membuat lagu yang atmosfernya dominan menguasai Singing Saw, album ketiganya yang bijak dan sendu melegakan.

 

Sendiri memang hal yang relatif. Namun demikian, untuk ukuran Kevin Morby, tempat tinggal barunya memberikannya suatu kebijaksanaan baru yang lahir dari introspeksi yang tidak dibuat-buat. Serupa dengan pemikiran Dean Wareham (punggawa Galaxie 500 dan Luna) yang menyatakan bahwa beberapa tahun belakangan pendekatan membentuk sebuah band bisa dikesampingkan karena kemungkinan membuat album dengan konsep singer-songwriter menjadi semakin lumrah dan potensial akibat teknologi serta konsensus kaum sidestream generasi baru. Begitupula dengan miripnya keputusan kedua arsitek musik beda generasi tersebut; pergi dari New York menuju Los Angeles.

 

Dengan mundur selangkah, Kevin Morby bergegas untuk melaju lebih dari dua langkah lebih maju. Singing Saw adalah pencapaian terbaiknya. Terlahir kembali seperti Dylan paska kecelakaan motor atau Cohen yang memutuskan untuk alih profesi dari penulis menjadi penyanyi. Daur ulang yang berhasil atas suara berpetuah musisi-musisi idolanya tersebut.

 

Bob Dylan

Simak cengkok countrynya ketika bertanya pada track “Drunk and on Star”: “Have you heard the schoolyard singing?”

Retoris. Ia menyambungnya dengan jawaban; bersumpah bahkan terasa seperti mengajari:

“I swear they’re calling out your name

And beauty is something that’s fleeting

It comes to touch, never to claim”

 

Bunyinya dan isinya mengingatkan pada materi tercecer Bob Dylan di The Basement Tapes yang direkam selama masa pemulihannya sehabis kecelakaan motor. Miripnya banyak, mulai dari lepas dari hiruk pikuk, sedikit colokan listrik, dan tidak urban. Tidak peduli akan musik keren membawa mereka kembali ke akar dan menjadi bebeda dengan zaman

 

Leonard Cohen

Keseluruhan lirik dalam Singing Saw terdengar dewasa. Bisa dipastikan, Morby tidak akan malu pernah merekam dirinya melantunkan kata-kata tersebut bahkan ketika itu adalah protes sekalipun. Morby menggambarkan kisah tidak terkenal tentang seorang African-American bernama Eric Garner yang mati dicekik oleh NYPD di tahun 2014. Morby bernyanyi ringan sambil berjudi di teritori kriminal: “That man lived in this town/ ‘Til that pig took him down”. Seperti Cohen, jitu dan cermat memandang dunia yang terlalu sering gelap. Bedanya, Cohen butuh kegagalan di dunia tulis menulis dulu hingga meraih tingkat kedewasaan menulis lirik seperti ini di awal kepala tiganya di tahun 1967.

 

Morby di pertengahan usia 20'an sudah menghasilkan sesuatu yang mendekati hal tersebut. Ini tinggal masalah bagaimana terus menjadi konsisten dan mempertahankannya dalam waktu yang lama hingga bisa seperti Cohen yang mati bak pahlawan di tahun yang sama dengan tahun rilis Singing Saw.

 

Terakhir, saya jadi ingat ketika pertama kali mendapatkan kiriman piringan hitam album rilisan Dead Oceans ini. Saya mengulitinya dan menaruhnya di atas slipmat. Meletakan jarum di atasnya dan menunggu habis sisi A. Sebelum membaliknya ke sisi B saya menanyakan opini seorang teman yang ikut mendengarkan sejauh ini. Ia menjawab: "Suka, easy listening gini".

 

Kevin Morby adalah jawaban terbaik untuk tahun 2016. Penyebaran humanisme terselubung yang kemungkinan besar terdengar membumi dan ringan.

 

Seringan mungkin.

 

                                              

Aldo is Founder of Papaya Records and Part of Studiorama,

You can reach him through :

aldo.ersan.s@gmail.com

instagram.com/aldousersan

 

Latest News

Jangar, Merapal Ulang Duka Berkepanjangan Warga Bali lewat Stoner Rock Berenergi

Malam itu, Jangar meraung khidmat dan berdentum hebat lewat stoner rock gontai nan berat khas mereka.

A Wrecked Interview with Dominic of NOTHING

We concluded our interview with a shot of whisky which leaves us both drunk and him wandering around again in the parking lot. What a great night.

LIVE REVIEW FROM THE STAGE “NOTHING LIVE IN JAKARTA"

Every great moment starts with a touch of Orang Tua Finest, “Anggur Merah”