10 Album Metal Terbaik di Paruh Pertama 2016

Album-album metal berkualitas dan layak dengar masih akan terus berhamburan hingga akhir tahun. Namun rasanya, beberapa album yang telah dirilis pada paruh pertama 2016 perlu diberikan apresiasi terlebih dahulu sebahai bentuk referensi yang patut disebarluaskan.

 

Band-band yang masuk ke dalam daftar di bawah juga bisa dikatakan memegang peranan penting dalam membawa kancah musik metal dunia ke tingkatan yang semakin luhur—selain Deftones, Gojira, dan Cult of Luna yang lewat kedewasaan bermusiknya telah menjadi pengaruh besar bagi para penggemar mereka sejak lebih dari satu dekade lalu.

Baik secara langsung maupun tidak, band-band ini tampak menegaskan kembali bahwa musik memiliki masa untuk berotasi dan tak selamanya harus menetap pada satu poros tertentu. Subgenre musik metal yang kian bercorak dan tersebar luas ini tentu saja bisa menuntun para pendengar dalam menentukan musik mana yang baik dan buruk serta mana yang relevan dan tidak terhadap dirinya ketika didengarkan.

Alhasil, lewat daftar “10 Album Metal Terbaik di Paruh pertama 2016” yang disusun berdasarkan abjad ini, saya ucapkan selamat memperlengkapi diri Anda dengan sajian musik metal yang bermutu, elegan, serta penuh kesegaran.

1. The Body – No One Deserves Happiness

Chip King dan Lee Buford terus menunjukkan konsistensinya dalam menghadirkan musik eksperimental yang memiliki kekuatan untuk menghantui para pendengar lewat berbagai elemen menakutkan—karakter vokal menjerit-jerit, bebunyian misterius, ketukan-ketukan elektronika tak lazim, hingga hujan desiran di mana-mana—yang tersaji bersamaan dengan instrumentalia lambat khas Sunn O))) dan Unearthly Trance. Segala keunikan yang tecipta juga tak lepas dari campur tangan para kolaborator seperti Chrissy Wolpert, Maralie Armstrong, Seth Manchester, Keith Souza, hingga Dylan Walker dari Full of Hell. Lewat No One Deserves Happiness, The Body tampak ingin mendeklarasikan bahwa tak ada seorangpun yang berhak mendapatkan kebahagiaan dalam dunia yang penuh dengan penderitaan. Dan ya, album rilisan Thrill Jockey Records ini sebaiknya tidak didengarkan oleh Anda yang tengah dirundung berbagai permasalahan hebat. 

2. Cobalt – Slow Forever

Merupakan suatu kekeliruan jika Anda berniat untuk mengategorikan musik yang ditampilkan secara menyeluruh dalam Slow Forever. Album studio panjang berdurasi lebih dari 80 menit milik multi-instrumentalist Erik Wunder dan vokalis baru Charlie Fell—mantan penggawa Lord Mantis dan Abigail Williams—ini memiliki amunisi mutakhir super canggih yang niscaya dapat dipergunakan untuk mengguncang kancah musik ekstrem dunia di hari-hari mendatang. Karakteristik black metal yang dibawakan secara disiplin, sukses digenapi dengan sokongan riff groove energik nan padat yang terdengar bagaikan dirasuki oleh roh-roh penguasa Seattle sound. Coba saja perhatikan intro “Hunt the Buffalo” yang sekelebat mengingatkan kita pada “Rotten Apple” ciptaan Alice in Chains dan “Cold Breaker” yang dentumannya seolah memanggil kembali kejayaan Nevermind milik Nirvana. Wunder selaku aktor jenius di balik album ini juga mengikutsertakan petikan-petikan gitar bernuansa folk—menempel ketat di beberapa penjuru lagu—yang menjadikan Slow Forever semakin sedap untuk disimak.

3. Cult of Luna – Mariner

Gambar sampul Mariner yang terkesan kurang estetis justru bisa membuat orang semakin penasaran untuk mendengarkan keseluruhan musiknya. Benar saja, meski ranah post-metal tengah diisi dengan banyak pemain baru yang tampil mengagumkan, album studio kolaborasi dengan Julie Christmas—penyanyi solo wanita serta bekas vokalis Battle of Mice dan Made Out of Babies—ini tetap bisa menyuguhkan komposisi-komposisi megah yang juga patut diperhitungkan. Tak hanya bernyanyi secara lembut sekaligus minimalis layaknya Chelsea Wolfe, Cat Power, dan Bat for Lashes di “A Greater Call” serta beberapa nomor lainnya, Christmas pun turut menambahkan teriakan-teriakan gusar khas dirinya yang menjaga sekaligus mengimbangi kepadatan aransemen yang tersaji, seperti bisa disaksikan dalam nomor pamungkas berjudul “Cygnus”. Pada akhirnya, Cult of Luna sudah sepatutnya berterima kasih kepada Christmas, karena kehadirannya menyebabkan album ini bisa memercikkan keindahan lebih banyak lagi.

4. Deftones – Gore

Deftones—secara khusus pentolan Chino Moreno—tengah berada di satu titik, yaitu ingin melakukan eksplorasi dalam bermusik. Tahun lalu, beberapa bulan sebelum Gore selesai digarap, Moreno mengungkapkan bahwa album teranyar dari band yang ia bentuk nyaris tiga dekade lalu itu banyak dipengaruhi oleh Morrissey. Seperti apakah hasilnya? Pasukan metal alternatif asal Sacramento, California, AS ini lantas menjawab rasa penasaran para penggemar pada 8 April silam—selaku tanggal perilisan album Gore. Benar saja, tanpa meninggalkan karakteristiknya sebagai salah seorang biduan metal paling berpengaruh, Moreno menampilkan pola vokal mengayun bak eks-vokalis The Smiths tersebut dengan cukup berani. Suntikan irama post-metal ala Russian Circles dalam lagu “Hearts/Wires” serta riff berat hasil permainan disiplin gitaris Stephen Carpenter yang intens menginterupsi nada per nada—lebih dikenal dengan breakdown—pada “Gore” juga merupakan sebagian bukti yang mempertegas satu hal: album studio kedelapan dari Moreno dkk. pantas diganjar sebagai salah satu album metal terbaik di 2016. Jika Anda berkiblat pada era Around the Fur dan White Pony, mungkin Gore bukanlah suatu entitas yang bisa diandalkan, meski tak menutup kemungkinan Anda juga akan menyukainya. Sebaliknya, apabila Anda lebih mengultuskan Deftones di saat mereka melepas Diamond Eyes dan Koi No Yokan, album ini bisa menjadi zat adiktif yang bakal membuat Anda terbuai untuk beberapa waktu ke depan, setidaknya hingga mereka kembali lagi dengan album terbarunya.    

5. Gojira – Magma

Terakhir merilis album pada 2012, tentu saja Gojira punya hasrat untuk kembali dan mempertunjukkan sebuah rilisan yang digodok secara maksimal. Mereka pun berhasil. Magma hadir sebagai satu kesatuan utuh dengan latar musik yang berbeda-beda. Jika “Stranded” memiliki reff luar biasa catchy yang begitu mudah untuk dikenang, lain halnya “Silvera” yang banyak memainkan riff repetitif dengan notasi progresif ala Meshuggah dan Strapping Young Lad. Tak ketinggalan, Anda pun perlu menyimak sebuah provokasi sukses dari intermeso pendek dengan nuansa stoner rock berjudul “Yellow Stone” yang hanya berdurasi nyaris satu setengah menit. Entah apa yang merasuki pikiran kakak beradik Joe dan Mario Duplantier, Christian Andreu, serta Jean-Michel Labadie selama mereka meramu Magma, namun kuartet penuh keterampilan ini mengetahui secara jelas bagaimana musik metal harus diperlakukan dengan eklektik dan inovatif.

6. Like Rats – II

Andy Nelson selaku penggawa Weekend Nachos memiliki beberapa proyek sampingan dan Like Rats merupakan salah satunya. Sebagai seorang penggemar old school death metal, haram hukumnya bagi saya untuk tidak mengikutsertakan II ke dalam daftar ini. Jangkauan musiknya semakin luas—menggapai musik hardcore, sludge, hingga doom metal dengan produksi sound buzzsaw yang lebih berat, tebal, dan berlapis-lapis—jika dibandingkan dengan album studio perdana bertajuk sama dengan nama band yang dilepas ke pasaran pada 2012 silam. Groove agresif khas eksponen macam Dismember dan Bloodbath pun juga terus mengusik di sepanjang album yang kemudian membuat kita sampai pada satu kesimpulan: di masa modern seperti saat ini, masih banyak—termasuk saya dan mungkin sebagian dari Anda—yang haus akan kekejaman death metal Eropa era 90-an awal. 

7. Nails – You Will Never Be One of Us

Jika Anda penggemar seni bela diri campur, mungkin tak asing dengan pertarungan berdarah fenomenal yang terjadi di antara Dan Henderson dan Maurício “Shotgun” Rua pada akhir 2011 silam. Kedua jagoan yang tampil dalam ajang UFC 139 tersebut saling melayangkan bogem mentah tanpa kenal henti hingga penghujung ronde kelima. Tak pelak, mereka pun diganjar wajah lebam dan badan serba lunglai yang pastinya sangat menyakitkan sekaligus melelahkan. Dengan memerhatikan seisi album You Will Never Be One of Us, mungkin kita menjadi paham apa yang dirasakan oleh Henderson dan Rua ketika itu. Album studio ketiga dari vokalis sekaligus gitaris Todd Jones, bassist John Gianelli, serta drummer Taylor Young ini bagai batu alam yang secara mendadak menghantam kepala hingga tak sadarkan diri. Sebaiknya, persiapkan telinga Anda terlebih dahulu untuk menerima hardikan dari beberapa nomor seperti “Life is a Death Sentence”, “Savage Intolerance”, serta sebuah single berjudul sama dengan tajuk album. Lewat You Will Never Be One of Us pula, Nails semakin agresif, berang, dan tampak ingin sekali menelanjangi individu-individu di luar sana yang senantiasa mempertontonkan eksistensi diri dengan penuh kepalsuan dan omong kosong—jika tak terbiasa dengan istilah social climber. Tema dan makna yang terkandung di You Wil Never Be One of Us pun bisa menjadi sangat personal dalam waktu bersamaan, ketika Todd dkk. juga memutuskan untuk mendedikasikan album terbaru mereka kepada seluruh pelaku kancah musik ekstrem yang keberadaannya masih sering dianggap tak perlu bahkan tak boleh ada. Sungguh terasa relevan, bukan? Pesan singkat yang kemudian tersirat dan dapat dipelajari adalah: sebaiknya orang-orang itu bungkam, karena mereka tak akan pernah tahu apa yang kita lakukan.

8. Plebeian Grandstand – False Highs, True Lows

Ulcerate masih menjadi yang terbaik di ranah death metal eksperimental sampai akhirnya saya menemukan nama Plebeian Grandstand. Album terbaru dari band asal Tolouse, Perancis ini diberi judul False Highs, True Lows yang jika disimak bisa menyita waktu Anda selama 35 menit. Namun tak perlu khawatir, karena berbagai aransemen yang tersaji di dalamnya melimpah ruah bak perladangan yang tengah panen; mulai dari badai riff padat yang menyapu bersih ruang-ruang lagu, harmonisasi gitar berkilauan, permainan drum bergelora, ragam vokal black metal yang menyeruak ke permukaan, hingga komposisi berihat sejenak yang dibawakan secara perlahan-lahan. Untuk membuktikannya, Anda bisa mendengar kebengisan “Tributes and Oblivions” dan instrumentalia penuh kesabaran di “Tame the Shapes”. Jika dibandingkan dengan album perdana bertajuk How Hate is Hard to Define, band ini menunjukkan proses pematangan yang begitu signifikan, sehingga sudah sewajarnya mereka mendapatkan atensi lebih.

9. Sumac – What One Becomes

Pada 2014 lalu, sebuah persekutuan khusyuk nan agung kembali mempertemukan tiga sosok penting kancah metal dunia yang kemudian bersatu di bawah wadah agresi bernama Sumac. Mereka adalah Aaron Turner (pendiri Hydra Head Records, vokalis sekaligus gitaris Old Man Gloom, juga mantan penggawa Isis), Brian Cook (bassist Russian Circles dan eks-personel Botch), serta Nick Yachshyn (drummer Baptists). Tahun ini, ketiganya kembali dengan album studio kedua bertajuk What One Becomes yang diproduseri oleh Kurt Ballou. Direkam di The Unknown Studio, Anacortes, AS yang dulunya merupakan sebuah gereja Katolik, album doom bercampur sludge metal ini sungguh memberikan efek jera bagi mereka yang melulu berada pada titik aman ketika mendengarkan musik. Meski hadir mempersembahkan riff berat penendang bokong yang dilengkapi serbuan dengung gitar nyaris di sekujur album, What One Becomes tetap mampu menawarkan jurang pemisah antara penyiksaan dengan pengasihan seperti yang terangkum dalam “Clutch of Oblivion” dan “Blackout”.  Tidak ada kompromi selebihnya, album yang penuh dengan cekikan maut ini dapat menyebabkan para pendengarnya tak berdaya dalam sekejap.

10. Verdun – The Eternal Drift’s Canticles

Apa yang terjadi jika Tony Iommi membentuk sebuah proyek musik bersama Steve Von Till dan Scott Kelly? Mungkin The Eternal Drift’s Canticles bisa menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut. Album studio perdana dari Verdun ini dibanjiri riff heavy rock ala Black Sabbath yang kemudian ditingkatkan lagi dosisnya dengan elemen kasar Neurosis serta formula doom metal macam Electric Wizard dan Acid King. Nomor pembuka berjudul “Mankind Seppuku” yang memberikan ruang bagi vokalis Paulo Rui untuk mengucapkan kata-kata layaknya sedang membaca mantra adalah salah satu yang wajib disimak. Tanpa basa basi, momen tersebut langsung ditingkahi dengan vokal menggerutu khas Till dan Kelly yang terus membanjiri seisi lagu. Dengan berbekal gerak gerik semacam ini, tentu saja Verdun bisa mencuri berbagai momentum yang ada untuk berteriak lebih nyaring di kemudian hari. 

 

                                                                                

Johan Franklin is Bassist at Orestes, Contributor at Rolling Stone Indonesia, Co Founder @antarbeer, and Writer at Refusedinfix.wordpress.com

You can reach him through :

johanfranklin@rocketmail.com
https://www.instagram.com
https://www.facebook.com

Latest News

Jangar, Merapal Ulang Duka Berkepanjangan Warga Bali lewat Stoner Rock Berenergi

Malam itu, Jangar meraung khidmat dan berdentum hebat lewat stoner rock gontai nan berat khas mereka.

A Wrecked Interview with Dominic of NOTHING

We concluded our interview with a shot of whisky which leaves us both drunk and him wandering around again in the parking lot. What a great night.

LIVE REVIEW FROM THE STAGE “NOTHING LIVE IN JAKARTA"

Every great moment starts with a touch of Orang Tua Finest, “Anggur Merah”